Mahyunadi Ajak Warga Kutim Rendahkan Diri dan Berdoa Lewat Salat Istisqa
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar Salat Istisqa atau salat meminta hujan di Lapangan Kantor Bupati Kutim, Rabu (9/9/2026) pagi. Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan di wilayah Kutim.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi dalam arahannya sebelum pelaksanaan salat mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menganggap hujan gerimis yang turun di sejumlah titik beberapa hari terakhir sebagai tanda bahwa musim kemarau telah berakhir.
Menurutnya, Salat Istisqa tetap perlu dilakukan karena kondisi kemarau di Kutim masih berpotensi berlangsung panjang. Ia mengingatkan adanya siklus kemarau panjang yang pernah terjadi sebelumnya.
“Kenapa kita melakukan Salat Istisqa padahal beberapa hari yang lalu sudah ada tanda-tanda hujan. Ada hujan gerimis beberapa titik yang turun di tempat kita ini. Seperti kita ketahui bahwa Salat Istisqa adalah salat meminta hujan,” ujar Mahyunadi.
Ia menyebut, jika melihat pola kemarau yang pernah terjadi, terdapat rentang waktu tertentu yang perlu menjadi perhatian. Mahyunadi mencontohkan kemarau panjang yang pernah terjadi pada periode sebelumnya dan mengingatkan kemungkinan kondisi serupa kembali terjadi pada 2026.
“Kalau kita melihat siklusnya berarti antara 14 sampai 15 tahun. 2007-2015 sampai 2026. Mungkin ini saatnya kemarau panjang,” katanya.
Mahyunadi menilai hujan yang turun beberapa hari terakhir masih berupa hujan tipis dan belum menunjukkan tanda-tanda masuknya musim penghujan. Karena itu, pemerintah bersama masyarakat memilih melakukan Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar sekaligus doa agar kemarau tidak semakin panjang.
Ia berharap pelaksanaan salat berjamaah tersebut menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, apabila hujan belum juga turun, Salat Istisqa dapat kembali dilaksanakan sebagai bentuk permohonan kepada Allah.
“Kalau tidak turun hujan pula, kita Istisqa lagi, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya hujannya diturunkan,” ucapnya.
Lebih dari sekadar meminta hujan, Mahyunadi mengatakan Salat Istisqa juga menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak membuat manusia mampu mengendalikan seluruh keadaan alam.
Menurutnya, manusia dapat membangun bendungan, menggali sumur, membuat jaringan air, bahkan memprediksi cuaca. Namun, manusia tetap tidak mampu memerintahkan satu tetes hujan untuk turun dari langit.
“Kita bisa membuat berbagai macam bangunan, bisa membuat bendungan, menggali sumur, membangun jaringan air, bahkan manusia sekarang bisa memprediksi cuaca, tetapi kita tidak mampu memerintahkan satu tetes hujan pun turun dari langit. Karena semuanya adalah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.
Mahyunadi kemudian mengutip Surah Asy-Syura ayat 28 yang menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan hujan setelah manusia berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.
Ia berharap seluruh masyarakat yang mengikuti Salat Istisqa benar-benar menjadikan momentum tersebut sebagai bentuk kerendahan hati dan pengakuan atas kebesaran Allah SWT. (*)

