Kutim Ditantang Pusat! Proyek Irigasi Besar-besaran Siap Ubah Wajah Pertanian Kutim

SANGATTA,– Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini berada di bawah radar perhatian serius Pemerintah Pusat. Dalam sebuah pertemuan strategis di Kantor Bupati Kutim hari ini, Kementerian Pertanian secara terbuka “menantang” Pemerintah Kabupaten Kutim untuk melakukan lompatan besar dalam infrastruktur pertanian, khususnya melalui proyek irigasi skala besar.
Tantangan ini bukan tanpa alasan. Pusat menilai Kutim memiliki modal alam yang luar biasa namun belum tergarap maksimal. Dengan dukungan anggaran yang siap dikucurkan, wajah pertanian Kutim diprediksi akan berubah total dari ketergantungan pada perkebunan tunggal menuju diversifikasi pangan yang kuat.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, usai menerima kunjungan Direktur Irigasi Pertanian di Ruang Arau, mengungkapkan bahwa tantangan ini adalah peluang emas yang harus segera dieksekusi.
“Pusat datang membawa tantangan besar. Kita saat ini baru memiliki empat usulan irigasi, tapi beliau (Direktur Irigasi) meminta minimal 10 usulan. Bahkan kalau bisa lebih dari itu,” ujar Mahyunadi dengan nada optimis.
Ia menegaskan bahwa kendala utama keengganan masyarakat menanam padi selama ini adalah minimnya fasilitas. Dengan proyek irigasi besar-besaran ini, pemerintah ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa bertanam padi bisa jauh lebih menguntungkan dibanding komoditas lainnya jika didukung infrastruktur yang mumpuni.
Menanggapi tantangan pusat, Pemkab Kutim menyiapkan strategi baru. Alih-alih hanya menunggu kesiapan lahan dari masyarakat, pemerintah melalui Badan Pertanian akan menyiapkan lahan yang berstatus clear and clean untuk dikelola secara profesional.
“Kita tidak ingin lagi berkutat pada masalah klasik lahan. Sekarang kita ingin siapkan lahan yang dikelola pemerintah, kita cetak sawahnya, lalu kita kerjasamakan dengan masyarakat. Termasuk memanfaatkan potensi lahan-lahan pascatambang yang sudah siap,” tambah Mahyunadi.
Direktur Irigasi Pertanian sekaligus PJ Swasembada Pangan Kaltim, Liferdi Lukman, memberikan alasan kuat mengapa Kutim harus berani mengambil tantangan ini. Berdasarkan analisis di lapangan, potensi air di Kutim selalu tersedia sepanjang tahun, hanya saja pengelolaannya belum terintegrasi.
Liferdi membawa data pembanding yang mengejutkan untuk mengubah mindset petani sawit di Kutim. “Kami menyaksikan sendiri di Riau dan Jambi, usaha tani padi itu faktanya tiga kali lebih menguntungkan daripada sawit. Inilah yang akan kita buktikan di Kutim melalui fasilitas irigasi yang maksimal,” tegasnya. (butsainah/*)
