Bupati Minta BPBD Intensifkan Koordinasi di Lima Kecamatan Rawan Banjir

Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Bupati Ardiansyah Sulaiman merespons cepat potensi bencana banjir. Bupati meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim segera mengintensifkan koordinasi dan penanganan di lima kecamatan yang dianggap paling rawan banjir.
Hal ini disampaikan Bupati Ardiansyah Sulaiman kepada awak media di Sangatta pada Senin (8/12/2025), usai menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan bencana.
Bupati Ardiansyah Sulaiman mengungkapkan bahwa BPBD Kutim telah diinstruksikan untuk bergerak cepat dan melakukan koordinasi intensif ke sejumlah kecamatan rawan, yaitu Muara Wahau, Kongbeng, Karangan, Telen, dan Bengalon.
“Kami bergerak cepat. Koordinasi telah dilakukan secara intensif di Kecamatan Telen, Wahau, Karangan, dan juga Bengalon,” ujar Bupati.
Upaya ini bertujuan memastikan tidak ada daerah yang terisolasi dan penyaluran bantuan serta logistik dapat berjalan efisien. Bupati juga mengapresiasi sinergi kuat yang terjalin antara Pemda dan aparat keamanan, termasuk TNI.
“Alhamdulillah juga laporan dari Pak Dandim sudah masuk. Ini menunjukkan respons terpadu untuk penyaluran bantuan dan mitigasi risiko telah berjalan baik,” tambahnya.
Dalam peninjauan dan evaluasi bencana, Bupati Ardiansyah secara transparan menyoroti faktor utama yang memperburuk siklus banjir di Kutim, yaitu degradasi lingkungan di area hulu sungai. Bupati menekankan bahwa keberlanjutan lingkungan adalah kunci mitigasi jangka panjang.
“Potensi kita kan di hulu kita kan ada juga penggundulan di hutan yang menjadi sawit,” jelas Bupati, menyoroti dampak konversi masif hutan menjadi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air.
Selain konversi lahan, Bupati juga menyatakan kekhawatiran terhadap material sisa penebangan yang dapat memicu bencana yang lebih besar.
“Yang kita khawatirkan nanti, kayu-kayu sisa penebangan itu ditaruh di mana. Kalau ada hal yang tidak diinginkan, ini bisa memicu penyumbatan dan banjir bandang kecil,” tegasnya.
Menanggapi risiko ini, Bupati telah menginstruksikan Dinas Perkebunan untuk segera melakukan pengawasan dan penertiban ketat terhadap penempatan material kayu di sekitar jalur air, sebagai langkah mitigasi risiko penyumbatan sungai.
Meskipun curah hujan tinggi, Bupati Ardiansyah Sulaiman tetap optimistis mengenai karakteristik siklus iklim di Kutim. Berdasarkan pengalaman, banjir di Kutim cenderung merupakan banjir genangan dan bukan banjir bandang yang ekstrem.
“Saya yakin siklus iklim kita di Kutim ini tidak sejauh itu. Selama ini hanya banjir saja, tidak seperti yang terjadi di beberapa daerah lain yang membutuhkan evakuasi besar-besaran,” pungkasnya. (Butsainah/*)
