Miliki Cadangan 5 Miliar Ton Batu Bara, Bupati Kutim Dorong Hilirisasi Metanol dan Investasi Triliunan Rupiah
Sangatta-Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menyatakan bahwa wilayahnya masih menyimpan potensi cadangan batu bara sekitar 5 miliar metrik ton di dalam perut bumi. Potensi besar emas hitam tersebut menjadikan Kutim siap bertransformasi menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru melalui proyek hilirisasi industri berskala besar.
Pernyataan itu disampaikan Ardiansyah saat memberikan sambutan di hadapan jajaran Forkopimda, kepala perangkat daerah, camat, kepala desa, serta pimpinan perusahaan tambang dan perkebunan di Kutim dalam acara peresmian underpass STA 34+700 di Desa Pulung Sari, Kecamatan Rantau Pulung, belum lama ini.
Menurut Ardiansyah, di tengah berkurangnya nilai transfer Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat ke daerah, kehadiran industri hilirisasi di dalam daerah menjadi penopang masa depan ekonomi Kutim yang kini menginjak usia 27 tahun.
Beberapa bulan lalu, proyek groundbreaking gasifikasi batu bara menjadi metanol telah dilaksanakan dengan dihadiri langsung oleh pihak Kementerian ESDM. Proyek di kawasan industri tersebut menyerap investasi sekitar Rp41 triliun dan ditargetkan siap beroperasi pada tahun 2030 mendatang.
“Proyek ini akan menyerap batu bara berkalori rendah dari perusahaan tambang di sekitarnya. Meskipun saat ini harga batu bara cukup tinggi, komitmen mendukung industri metanol ini tidak boleh bergeser agar prosesnya tidak stagnan,” kata Ardiansyah.
Selain proyek tersebut, Kutim juga tengah menyambut rencana investasi dari perusahaan asal Tiongkok, PT Nan Berkah, yang akan membangun pabrik metanol berbasis gasifikasi batu bara senilai Rp30 triliun. Penandatanganan kesepahaman proyek di kawasan ekonomi khusus tersebut diharapkan dapat terealisasi pada bulan November ini.
“Dan nilainya juga enggak tanggung-tanggung 30 triliun. Mudah-mudahan di dalam bulan November ini sudah terjadi perjanjian kerja atau atau kesepahaman dengan BUPP-nya MBTK yang ada di kawasan ekonomi khusus Maluku,” Imbuhnya
Tak hanya hilirisasi batu bara, investor asing asal Thailand juga berencana membangun industri baterai lithium di kawasan ekonomi khusus dengan nilai investasi sekitar Rp10 triliun. Deretan investasi ini membuktikan kontribusi besar Kutim terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur dan nasional.
“Bahwa Kutai Timur ini memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi khususnya Kalimantan Timur dan Indonesia pada umumnya pada saatnya nanti. Dan mudah-mudahan ini bisa berjalan dengan baik.” Pungkasnya (Butsainah/ADV/*)

