STAIS Sangatta Terjunkan 100+ Mahasiswa KKL ke Muara Wahau dan Kombeng

SANGATTA — Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) resmi melepas ratusan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Lapang (KKL) Angkatan ke-16 menuju Kecamatan Muara Wahau dan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), pada Senin (10/11/2025). Pelepasan ini menandai dimulainya masa pengabdian selama 45 hari sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan peran strategis mahasiswa dalam pembangunan daerah.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Sudirman Latif, yang mewakili Bupati Kutim, secara langsung memimpin pelepasan. Dalam arahannya, Sudirman menekankan pentingnya peran aktif mahasiswa di tengah masyarakat.

“Kehadiran mahasiswa STAIS di tengah masyarakat adalah bukti bahwa kampus bukan menara gading. Dunia akademik harus hadir, berbaur, dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan Kutai Timur, khususnya di bidang sosial dan keagamaan,” tegas Sudirman Latif.

Sudirman Latif lebih jauh menilai kegiatan KKL ini sebagai perwujudan nyata dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang menjadi dasar keberadaan kampus. Ia juga menyoroti mahasiswa sebagai jembatan aspirasi.
“Pemkab Kutim memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam perubahan sosial. Melalui KKL ini, mereka bisa menjadi jembatan yang menyampaikan aspirasi masyarakat dari desa ke ruang kebijakan,” jelasnya, seraya berpesan agar mahasiswa mampu beradaptasi dan berkolaborasi dengan warga lokal.

Di sisi lain, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) STAIS Sangatta, Mustato, mengingatkan bahwa setiap mahasiswa yang berangkat adalah duta yang membawa nama baik almamater.
“KKL adalah bagian penting dari proses pendidikan di STAIS. Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul di kampus, tetapi juga mampu memahami realitas sosial di masyarakat. Inilah wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang kami tanamkan sejak dini,” ujar Mustato.

Mustato berharap para mahasiswa mampu berperan sebagai promotor eksistensi STAIS yang turut mendukung pembangunan di Kutai Timur, khususnya dalam bidang religi, dakwah, dan sosial.

Selama 45 hari di Muara Wahau dan Kombeng, para mahasiswa akan menjalankan berbagai program sosial, pendidikan, dan keagamaan. Salah satu peserta, Rahmi, mahasiswi semester tujuh, menyampaikan optimismenya.

“Kami merasa tertantang sekaligus bersyukur bisa langsung belajar dari masyarakat. Semoga kami bisa membawa manfaat dan menjadi bagian dari solusi untuk warga di tempat kami mengabdi,” pungkas Rahmi. (*/ADV)