Kutim Punya Dua Pelabuhan Besar, Namun Masih Mangkrak

SANGATTA. Kutai Timur merupakan daerah  dengan potensi sumber daya alam besar. Termasuk, dimana saat ini ada bernaung sekitar 800 perusahan. Tak salah, pemerintah kini membangun  dua pelabuhan  yang  cukup besar, hanya saja kedua pelabuhan itu masih mangkrak.  

Pelabuhan pertama adalah pelabuhan Kenyamukan. Pelabuhan sudah terbangun, namun causeway-nya hingga kini belum bisa digunakan karena belum rampung selama bertahun-tahun. Bukan hanya itu, akses jalan masuk kawasan pelabuhan belum selesai. Termasuk, sisi darat pelabuhan seluas 2,4 hektare, masih berupa lapangan, belum ada bangunan untuk terminal penunpang atau barang.

Pelabuhan Sangatta, kini  telah dihibahkan pemerintah Pusat ke Pemerintah Kutai Timur, sejak tahun lalu.  Dengan hibah ini pemerintah Kutia timur sudah bisa membangun pelabuhan Sangatta. Hanya saja,  tetap membutuhkan  kerja sama dengan pemerintah pusat, provinsi untuk mengerjakannya. Demikian dikatakan Kadisdhub Kutim Rizali Hadi, beberapa hari lalu.

“Aset ada di kita sekarang.  Memang ada kendala untuk pembangunan, karena itu butuh sinergitas untuk melakukan pembangunan di sana.  Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi.  Tahun ini,  kita sudah bisa mulai pembangunannya, berharap  tahun 2023, itu sudah bisa operasi,” katanya.

Menurutnya,  banyak  keuntungan yang bisa diperoleh  dari terbangunnya pelabuhan ini nantinya. Pertama, dengan operasi pelabuhan ini, maka dispritas harga bisa di tekan. Sebab, biaya angkut yang selama ini menggunakan angkutan darat  cukup besar  mempengaruhi harga, bisa ditekan.  Sebab  dengan beroperasinya pelabuhan ini maka barang sudah bisa langung ke Kutim.

“dengan beroperasinya pelabuhan ini nantinya, maka itu juga akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Kutim.  Ini cukup banyak tenaga kerja akan terserap di sana,” katanya.

Selain pelabuhan Sangatta, Kutim juga punya pelabuhan Maloy, yang berada di Kawasan ekonomi khusus Maloy (KEK) Maloy. Pelabuhan ini sudah terbangun, namun akses menuju pelabuhan ini juga belum terbangun dengan baik. Termasuk akses dalam kawasan KEK Maloy belum  terbangun, sehingga pelabuhan ini juga belum beroperasi.

Menurut Kepala Dinas Pelayan Terpadu Satu Pintu (DPTSP) Tegu Budi Santosa, KEK Maloy ini telah diresmikan presiden,  namun  hingga kini kelembagaan yang akan mengelola kawasan ini belum rampung.

“Permasalahan yang ada di kawadan ini, karena jaringan telekomunikasi belum memadai, jaringan aksesibilitas kawasan belum selesai, termasuk jalan menuju pelabuhan tersebut, juga belum tuntas,” kata Tegu, beberapa waktu lalu.(jn)