Genjot Perbaikan TPA Batota, DLH Kutim Mulai Pemilahan Sampah dan Tambah Alat Berat

SANGATTA — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah mengebut perbaikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Batota di Sangatta Utara. Langkah ini diambil setelah Pemkab Kutim menerima sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akibat pengelolaan sampah yang masih menggunakan sistem terbuka (open dumping).

Kepala DLH Kutim, Aji Wijaya Efendi, membenarkan adanya sanksi dari Tim Gakkum KLHK tersebut. KLHK mewajibkan pengolahan sampah di TPA Batota beralih ke sistem lahan urus saniter (sanitary landfill) yang lebih ramah lingkungan.

“Kutim kena sanksi administratif dari KLHK karena pengolahan sampah di TPA Batota dinilai tidak ramah lingkungan akibat masih memakai sistem open dumping. KLHK minta harus menggunakan sistem sanitary landfill,” ujar Aji saat ditemui di Kantor Bupati Kutim, Senin (1/9/2026).

Aji menegaskan, meski sebatas sanksi administratif, Pemkab Kutim tetap berkomitmen menindaklanjutinya dengan menyesuaikan spesifikasi TPA ramah lingkungan. Perbaikan yang sedang berjalan meliputi penimbunan sampah secara berkala hingga pemasangan jaringan pipa pembuangan gas.

Selain itu, pengelolaan sampah yang masuk ke TPA kini mulai dipilah. Sampah nonorganik dipisahkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah organik dialirkan ke TPA.

Guna mendukung penataan tersebut, DLH Kutim telah menganggarkan pembelian alat berat berupa buldozer untuk meratakan dan menimbun sampah yang volumenya terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Aji menceritakan, pengalihan wewenang pengelolaan TPA dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) ke DLH terjadi sekitar 2017. Saat penyerahan dilakukan, DLH harus memulai tata kelola dari nol karena belum memiliki sarana dan prasarana penunjang yang memadai.

“Kami terus berbenah secara bertahap. Dulu urusan sampah dan TPA ini ada di Dinas PU, baru diserahkan ke DLH sekitar tahun 2017. Saat diserahkan, DLH tidak punya alat sama sekali, sementara TPA sudah ada dan tinggal melanjutkan. Jadi, kami merintis pengelolaannya dari nol,” pungkasnya. (*)