Disdikbud Kutim Pasang 141 Starlink di Sekolah Blank Spot, Dorong Akreditasi Nasional Berbasis Google

SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) terus menggenjot implementasi program Inuma (Inovasi dan Mutu Pendidikan) yang bertujuan memajukan proses belajar mengajar melalui integrasi teknologi, termasuk pemanfaatan internet.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan bahwa salah satu langkah awal yang telah dilakukan sejak tahun lalu adalah mengatasi masalah blank spot di sekolah.
“Inuma itu adalah program pemerintah, bagaimana meningkatkan proses belajar mengajar di Kutim termasuk penggunaan teknologi, Itu dimulai sejak tahun lalu, kita pasang 141 Starlink di sekolah yang belum terjangkau internet. Tahun ini dilanjutkan pemasangannya,” jelas Mulyono.
Pemasangan Starlink tersebut tidak hanya mencakup instalasi perangkat, tetapi juga mencakup subsidi biaya pulsa internet yang ditanggung oleh pemerintah daerah untuk menjamin kelancaran kegiatan belajar mengajar.
Mulyono mengungkapkan bahwa pada tahap kedua, Disdikbud akan melakukan langkah ambisius melalui kerja sama dengan Google. Tahap ini mencakup bimbingan teknis (Bimtek) Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) dan upaya meraih level Kajian Sekolah Google (KSG).
Targetnya, Kutim akan mencatatkan 35 sekolah yang meraih status KSG. Pencapaian ini berpotensi memecahkan rekor nasional yang saat ini dipegang oleh Kutai Kartanegara (Kukar) dengan 20 sekolah.
Syarat utama untuk mencapai level KSG meliputi:Minimal 30 persen guru telah bersertifikat Google Level 1 (L1). Semua guru dan siswa memiliki akun belajar terintegrasi. Sekolah memiliki minimal 60 unit Chromebook.
Selain fokus pada siswa kelas empat SD ke atas, Disdikbud Kutim juga menyiapkan perangkat pembelajaran berbasis teknologi untuk siswa tingkat bawah.
“Untuk kelas tiga ke bawah, termasuk anak TK, Paud, bahkan anak-anak yang masih belum bisa baca tulis, ada permainan elektronik mereka. Ada alatnya sendiri, yang akan disiapkan. Jadi ada aplikasi, ada alatnya, di mana anak-anak yang belum bisa baca pun bisa menggunakan,” tutup Mulyono (*/ADV)
