PMI Kutim Salurkan Bantuan Rp350 Juta untuk Korban Bencana di Aceh dan Sumbar

SANGATTA – Jarak ribuan kilometer antara Kalimantan Timur dan Pulau Sumatera tidak menjadi penghalang bagi tumbuhnya rasa persaudaraan. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi menginisiasi misi kemanusiaan lintas pulau untuk membantu para penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Gerakan ini menjadi istimewa karena lahir dari semangat gotong royong dunia pendidikan. Sebanyak 54 sekolah di seluruh Kabupaten Kutim bergerak serentak menghimpun donasi, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah.
Ketua PMI Kutim, Kasmidi Bulang, mengungkapkan bahwa total donasi yang terkumpul dari para siswa dan guru mencapai Rp329 juta. Namun, sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme masyarakat, nilai tersebut digenapkan menjadi Rp350 juta.
Satu hal yang ditegaskan Kasmidi adalah integritas dalam penyaluran. Ia menjamin bahwa seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan 100 persen kepada penerima manfaat tanpa potongan biaya apa pun.
“Biaya keberangkatan dan operasional relawan sudah kami siapkan secara terpisah dari kas PMI. Donasi ini sepenuhnya milik masyarakat terdampak. Tidak ada satu rupiah pun yang tergerus untuk ongkos perjalanan atau logistik tim,” tegas Kasmidi.
Bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk barang yang menyasar kebutuhan mendasar anak-anak sekolah pascabencana. PMI Kutim telah menyiapkan 700 paket perlengkapan sekolah (school kit) yang masing-masing bernilai Rp500 ribu. Selain itu, sebanyak 130 mushaf Al-Qur’an juga turut dikirimkan sebagai dukungan moral dan pendidikan batin bagi warga.
Bantuan ini direncanakan akan didistribusikan secara spesifik ke sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur yang terdampak cukup parah.
Untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas, PMI Kutim memberangkatkan tim kecil yang terdiri dari empat pengurus dan dua anggota Palang Merah Remaja (PMR). Kedua pelajar tersebut terpilih dari SMP YPPSB Sangatta Baru dan salah satu SMA di Kecamatan Sandaran, guna memberikan pengalaman langsung mengenai misi kemanusiaan.
Rombongan yang dijadwalkan berangkat pada 28 hingga 31 Januari 2026 ini juga menyertakan seorang jurnalis sebagai saksi independen. Kehadiran media diharapkan menjadi bukti pertanggungjawaban publik bahwa amanah dari para donatur di Kutim tersampaikan dengan tepat sasaran.
Di balik angka-angka donasi tersebut, terselip kisah haru dari SLB Negeri Kutim. Meski memiliki keterbatasan, para siswa di sekolah tersebut tetap antusias menyisihkan uang saku mereka untuk membantu sesama di Sumatera.
Sidiq, perwakilan SLB Negeri Kutim, menyatakan bahwa partisipasi ini adalah bagian dari pembelajaran empati. “Kami ingin anak-anak belajar bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menghalangi rasa kemanusiaan. Mereka belajar bahwa hari ini mereka memberi, dan itu adalah pelajaran hidup yang sangat berharga,” ujarnya. (Butsainah/*)
