5.000 Jiwa di Pedalaman Kutim Segera Nikmati Listrik 24 Jam Penuh

BATU AMPAR, KUTIM – Di balik rimbunnya hutan dan perbukitan di pedalaman Kutai Timur (Kutim), ribuan warga di Kecamatan Batu Ampar hidup dalam ritme yang diatur oleh suara mesin disel. Setiap sore, genset adalah sumber kehidupan sekaligus penentu jam tidur. Namun, sebentar lagi, irama tersebut akan berganti.

PT PLN menargetkan pada tahun 2026, listrik akan mengalir penuh 24 jam di wilayah ini. Proyek ambisius ini bukan sekadar instalasi tiang dan kabel, melainkan janji “terang” yang akan mengakhiri masa-masa gelap dan membuka lembaran baru bagi sekitar 5.000 jiwa di Batu Ampar.

Bagi warga Desa Mugi Rahayu, Rasmani (42), malam selalu identik dengan penghematan solar. Anaknya harus belajar ditemani cahaya seadanya.

“Kalau malam kami sering hemat solar, jadi lampu dimatikan lebih awal. Anak-anak belajar pakai lampu cas. Kalau nanti listrik PLN sudah masuk, rasanya seperti mimpi, bisa terang terus,” ucap Rasmani dengan mata berbinar, menggambarkan betapa berharganya penerangan tanpa jeda.

Cerita serupa datang dari Arifin (33), pemilik warung di Desa Beno Harapan. Keterbatasan listrik membatasi potensi usahanya, membuatnya harus menunda impian untuk memperluas dagangan yang memerlukan pendinginan.

“Kalau ada listrik 24 jam, saya bisa jualan es, nyalain kulkas, usaha bisa tambah maju. Dampaknya bukan cuma untuk saya, tapi pasti memicu geliat ekonomi warga lain juga senang,” kata Arifin, melihat adanya potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan.

Camat Batu Ampar, Suriansyah Mutul, menjadi saksi mata perjuangan logistik dalam proyek ini. Ia menyebut progres pembangunan jaringan sepanjang 4,5 kilometer dari Muara Bengkal menuju Batu Ampar sudah berjalan signifikan.

“Saat ini, pengiriman material vital seperti tiang listrik dan truk cor tiang (mixer) tengah berlangsung dari Kecamatan Sebulu, Kukar. Seluruh pengiriman dikawal aparat TNI dan Polri demi menjaga keamanan di jalur lintas pedalaman,” jelas Suriansyah.

Jalur instalasi kelistrikan ini melewati tiga desa utama—Mawai Indah, Mugi Rahayu, dan Beno Harapan—dan juga melintasi kawasan perusahaan seperti PT Telen, PT Mahakam Persada Sakti, dan PT Permata Hijau Katulistiwa.
Uniknya, dukungan datang dari perusahaan-perusahaan sekitar. PT Telen, misalnya, siap membantu pembersihan dan penebangan pohon sawit yang menghalangi jalur instalasi. “Mereka hanya meminta penandaan dari pihak PLN dan kecamatan untuk langsung ditindaklanjuti,” tambah Camat.

Jika berjalan lancar, pemasangan tiang listrik ditargetkan rampung Desember 2025, disusul pemasangan kabel pada Januari 2026. Proyek ini ditargetkan menyala penuh, membawa terang bagi warga Batu Ampar, sebelum Idul Fitri 2026.

Bagi Suriansyah, cahaya yang akan hadir bukan sekadar persoalan teknis, melainkan simbol kuat pemerataan pembangunan di Indonesia. “Kami ingin warga Batu Ampar benar-benar merasakan manfaat pembangunan, tidak tertinggal hanya karena berada di pedalaman,” tegasnya.

Ketika jaringan listrik nanti benar-benar menyala, Batu Ampar tak lagi sekadar nama di peta. Ia akan menjadi kisah tentang kesabaran, asa, dan bagaimana sinar listrik menerangi bukan hanya rumah dan jalan, tetapi juga masa depan yang lebih maju di Kutim. (*/ADV)