Diduga Sebagai Penampungan Fee Proyek Solar Cell di Dinas Pendidikan, Direktur CV Dua Putra Ditahan Kejari Kutim

SANGATTA. Kejaksaan Negeri (Kejari) Kutai Timur (Kutim) pada Rabu (24/1/2023) kembali menahan satu tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan solar cell Dinas pendidikan tahun 2020, yang merugikan Negara Rp16,6 miliar. Tersangka yang ditahan berinisial R, yang menjabat sebagai direktur CV Dua Putra  Sangatta.

Dimana perusahan ini, diduga sebagai perusahan penampungan fee dari sejumlah CV, yang digunakan sebagai kontraktor dalam pengadaan solar cell tersebut, yang direkrut oleh tersangka AEH, yang sebelumnya telah dilakukan penahanan.

Penahanan tersangka R, dibenarkan Kajari Kutim Romlan Robin, didampingi Kasi Pidsus Michael A F Tambunan. “Hari ini kami menahan tersangka R, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan solar cell di Disdik Kutim. Peran R, adalah sebagai direktur CV Dua Putra, yang menampung fee dari perusahan-perusahaan kontraktor yang mengerjakan pengadaan solar cell. Tapi perusahan-perusahan yang terlibat pengadaan itu sebenarnya hanya diatas namakan, mereka ini direktrut oleh AEH.  sesunguhnya pekerjaan dilaksanakan, dikoordinir langsung oleh RLS, yang saat ini masih buron,” jelas Tambunan.

Diakui, R, didampingi oleh penasehat hukumnya bernama Eke Heriyanto SH, dari Jakarta.  “Penahanan Tersangka R ini, tidak diterima oleh PH mereka. Karena itu mereka akan melakukan praperadilan. Tentu, kami dari penyidik siap menghadapi properadilan ini di Pengadilan Negeri Sangatta,” katanya.

Diakui, R sebenarnya memang kooperatif, namun tidak hadir saat dipanggil minggu lalu, karena menunggu PH-nya. Sekarang PH nya sudah ada, karena itu dia juga datang. Karena ini sudah kewenangan penyidik, karena itu penyidik melakukan penahanan, dalam rangka mempermuda penyidikan.

Meskipun telah menahan R, Tambunan mengatakan dari tersangka belum didapati barang bukti berupa asset yang harus disita. Sebab semua dana yang masuk dalam perusahan yang dikelola R, dikendalikan dan diatur penggunannya oleh RLS, yang masih buron.  “Jadi dana yang masuk CV Dua Putra, dikendalikan penuh oleh RLS,” katanya.

Karena itu, pihaknya terus melakukan pengejaran terhadap asset RLS, termasuk RLS sendiri. “Aset yang diamankan dari RLS, selain rumah di Samarinda, sekarang ada lagi tanah di Balikpapan.  Ini Nilainya Rp1 miliar. Kami masih kembangkan terus. Sementara untuk pencarian RLS, kami sudah minta bantuan Kejari Buton, untuk mencari di sana. Bahkan minta Bupati Buton, untuk membantu agar RLS menyerahkan diri untuk memperlancar proses hukum,” jelas Tambunan.

Sekedar diketahui, RSL telah pindak tugas ke Buton, bahkan sebelum kasus ini masuk penyidikan.  Dalam kasus ini RLS adalah selaku Kasi Sarana prasarana Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kutim, sementara A atau AEH, pegawai dengan status tenaga kerja kontrak daerah (TK2D), pelaku oktif manipulasi pengadaan barang jasa. (J)