Hingga Agustus, 73 Persen Investasi Masuk Kutim

Kaltim, Kutai Timur387 Dilihat

Sangatta – Kutai Timur dengan berbagai potensi sumber daya alam yang dimilikinya, nampaknya masih jadi tujuan utama investasi di Kaltim. Ini terbukti, dari target investasi di Kaltim tahun 2022 senilai Rp 8 triliun,  sebagian besar  masuk Kutim. Tepatnya, hingga Agustus, investasi masuk Kutim sudah mencapai Rp5,86 triliun, atau 73 persen dari target investasi Kaltim senilai Rp8 triliun.  Demikian diakui Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu  (DPMPTSP) Kutim Teguh Budi Santosa, dalam rapat  OPD dipimpin Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang.

“Realisasi investasi di Kutim  tahun 2022, untuk penamaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp  1,9 triliun, sementara Penanaman modal asing (PMA) senilai US 275 juta atau senilai Rp 3,9 Triliun. Sehingga total investasi masuk kutim  tahun ini senilai Rp5,86 Triliun,” jelas Tegu.

Dijelaskan, realisasi investasi sebesar itu , melampaui target  investasi Kutim senilai Rp3,32 triliun atau sudah mencapai 177 persen dari target. Sementara untuk persentasi investasi Kaltim, itu 73 persen dari taget 8 triliun.

Adapun serapan tenaga kerja dari masuknya investasi sebanyak itu, terbagi, untuk serapan tenaga kerja PMDN,  menyerap tenaga kerja  dalam negeri  atau tenag kerja lokal sebanyak  5970,  sementara tenaga kerja aling 6 orang.
Sementara untuk investasi asing (PMA), menyerap tenag kerja lokal 1526 orang, sementara tenaga kerja asing sebanyak 171 orang.

Menangapi  nilai investasi yang masuk Kutim, dengan serapa tenag kerja yang begitu besar,  Wakil Bupati Kutim Kasmisi Bulang meminta agar DMPTSP, membuka informasi tersebut pada masyarakat, melalui rilis. Karena ini perlu diketahui, sebab ini juga merupakan bangian dari kinerja pemerintahan.

“ini perlu dirilis, supa masyarakat tau, karena ini juga bagian dari kinerja pemerintahan kita,” katanya.

Meskipun investasi sudah melampaui target investasi tahunan, namun  masih rendah dibanding dengan investasi masuk Kutim tahun 2021 lalu sebanyak  Rp9 triliun, dan mampu membuka lapangan kerja sebanyak 11 ribu orang.  Bahkan, menurut perhitungan Dinas tenaga kerja, serapan tenaga kerja tahun lalu sebenarnya mencapai 12500 orang.

“Serapan tenaga Kerja tidak fokus pada proyek pekerja proyek yang di danai dari investasi, tapi dihitung termasuk pada Usaha Kecil Menengah (UKM), yang terdampak. Termasuk misalnya pekerja warung makan, pekerja toko yang berdampak. Makanya jumlahnya besar,” kata Kepala Dinas tenaga Kerja Sudirman Latif.