Banjir Surut, Harga Pangan Meroket

Kaltim, Kutai Timur462 Dilihat

SANGATTA. Ditengah penderitaan puluhan ribu warga Kutim yang terendam rumahnya, akibat luapan air sungai sangatta, banyak pula warga yang mengais rezeki melimpah, dengan memanfaatkan keadaan. Khususnya pedangan. Mereka menaikkan harga pangan semaunya.


Termasuk harga bahan bakar, khususnya pertalite eceran melambung hingga naik 100 persen lebih. Meskipun ada kenaikan harga yang tidak masuk akal, namun warga yang membutuhkan tetap antri untuk mendapatkannya, agar bisa tetap beraktifitas.

“Biasanya pertalite saya beli Rp10 ribu, sekarang harganya Rp15 ribu. Bahkan Senin (21/3) lalu, saya dapat harga Rp20 ribu. Tapi mau diapa, karena kita butuh. Senin kemarin, tinggi sekali, karena memang ndak ada pompa bensin yang buka. Tapi hari ini (Selasa,Red) sudah ada, di Jalan Pendidikan, tapi antri panjang, bisa ndak kerja kalau mau antri ber jam-jam hanya untuk ngisi bensin tiga liter,” kata Agus, warga Singa Gembara.

Agus sendiri mengaku rumahnya sebenarnya tidak banjir, namun dia tetap ikut dampak banjir, akibat kenaikan harga ini. “Saya hanya berharap dalam dua tiga hari akan datang semua kembali normal,” harapnya.

Sementara itu, dari pantauan wartawan di pasar Induk sangatta, di Jalan Eri Suparjan, harga sayur – sayuran semua pada naik hingga 100 persen, bahkan lebih. Sawi hijau yang biasanya harganya Rp5000 per ikat, kini harganya Rp15 ribu. Sawi putih yang biasanya harga Rp7000, kini naik jadi Rp15 ribu. Tomat yang harganya biasa 600, kini naik jadi Rp25 ribu. Bahkan yang paling parah, lombok yang biasanya harganya Rp30 ribu per kg, kini naik Rp20 ribu per on, artinya Rp200 ribu per kg.

“Saya beli seadanya karena saya tidak bayangkan kalau harga melonjak seperti ini. Saya bawa uang seperti biasa, ternyata harga pada naik. Jadinya, saya beli seadanya,” kata Anah, salah seorang warga yang sedang belanja kebutuhan dapur.

Sementara itu, pedangan yang tak mau disebutkan namanya mengaku, kenaikan harga ini mungkin sementara saja. Karena kenaikan ini hanya akibat dari terputusnya pasokan akibat banjir.

“Selama banjir, tidak ada pasokan sayur dari kecamatan, termasuk samarinda. Makanya semua naik. Tapi kalau air sudah surut, mungkin sayur-sayuran dari kecamatan sudah kembali masuk Sangatta, jadi harga bisa kembali normal,” katanya. (jn)