Kutim Bisa Jadi Penghasil Coklat Terbesar di Kaltim

Kaltim, Kutai Timur276 Dilihat

Sangatta – Selain terkenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia dan memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Kabupaten Kutai Timur (Kutim) nampaknya juga merupakan salah satu daerah penghasil Kakao terbesar di Kaltim.

Pasalnya, berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim 2020 lalu, Kutai Timur memiliki luas perkebunan kakao kurang lebih 3.440 hektar, yang bisa menghasilkan 1.410 ton kakao setiap tahunnya.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengakui, selain sebagai penghasil sawit terbesar, Kutai Timur juga sangat berpotensi sebagai salah satu daerah penghasil bahan baku coklat terbesar di Kaltim.

“Kakao kita saat ini terdapat di beberapa Kecamatan. Yang paling lama penghasil kakao itu di Kecamatan Busang, Teluk Pandan dan kemudian sekarang muncul Kecamatan Karangan sebagai penghasil coklat terbesar,” Kata Ardiansyah Sulaiman beberapa waktu yang lalu.

Bahkan menurut Ardiansyah Sulaiman, saat ini penghasil kakao terbesar di Kutim, yakni di Kecamatan Karangan juga sudah bekerja sama dengan PT Berau Coal untuk meningkatkan nilai jual cokelat dengan sistem fermentasi.

“Karena Kecamatan Karangan lebih dekat dengan Kabupaten berau, terutama dengan PT Berau Coal, jadi PT Berau Coal lah yang menginisiasi untuk membantu memproduk kakao ini ke turunannya,” Jelas Bupati Kutim

Tak hanya itu, bahkan di Kota Sangatta sendiri juga sudah terdapat 4 pabrik turunan kakao. Namun hasil prodaknya sendiri sangat sulit ditemukan di Kutim.

“karena sudah di minta orang, terutama dari Kota Samarinda. Jadi jarang di edarkan disini,” bebernya

Karena itu, menurut Ardiansyah Sulaiman Kakao ini juga merupakan salah satu kebanggaan Kutim juga, yang diharapkan bisa terus ditingkatkan.

“jadi selain dari sawit dan kakao, berikutnya lagi kita juga punya komoditas karet, nah karet ini secara spesifik nampaknya masih belum untuk dilakukan secara profesional, menurut pemahaman saya. Karena kita saat ini masih lebih banyak fokus ke sawit, dan kakao saat ini masih mulai. Nah kalau karet ini masih belum.” Tutupnya