Pemkab Kutim Berharap Bisa Perpanjang Runway Tanjung Bara

Kaltim, Kutai Timur369 Dilihat

Sangatta…Bupati Ismunandar mengatakan, pihaknya kini fokus menggunakan bandara, dan berharap bisa memperpanjang Runway bandara Tanjung Bara, bandara Milik PT KPC.

“Kita fokus yang ada saja. Runway- kita perpanjang,” jawab Bupati Ismunandar pada wartawan, beberapa hari lalu, saat ditanya rencana pembangunan bandara.

Sebelumnya, Wakil Bupati Kasmidi Bulang mengatakan, pemerintah memilih Bandara Tanjung Bara sebagai solusi untuk memiliki Bandara, karena pengajuan pelimpahan aset dari PT Pertamina ke Pemkab Kutim hingga kini tak rampung. Apalagi, pembangunan memerlukan anggaran yang basar. Sementara bila menggunakan Bandara Tanjung Bara, bisa bekerja sama dengan PT KPC, tinggal memperpanjang runway dan membangun akses jalan agar tidak mengganggu kawasan pertambangan dan pemukiman karyawan perusahaan tersebut.

“Kita sudah memilih bandara Tanjung Bara, untuk solusi penerbangan di Kutim. Kita akan menggelar pertemuan dengan jajaran pemimpin PT KPC untuk kerja sama. Akses jalan akan kita buat terpisah dengan jalan milik perusahaan, agar masyarakat umum pengguna bandara, tidak mengganggu aktifitas di kawasan perusahan,” kata

Dikatakan, kebutuhan angkutan udara sudah sangat tinggi di Kutim. Ini terlihat pada penerbangan subsidi yang diberikan pemerintah pusat melalui Dirjen Perhubungan Udara selalu padat penumpang. Apalagi ke depan dengan dioperasikannya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, tentu akan banyak yang membutuhkan angkutan udara, karena perusahan ingin menghemat waktu dan tenaga.

“Karena itu, kita terus berusaha agar memiliki bandara umum. Bahkan kalau bisa tak hanya pesawat perintis yang mendarat, tapi juga pesawat komersial jenis boing atau airbus juga bisa mendarat di Tanjung Bara,” harap Kasmidi.

Seperti diketahui, pemkab Kutim awalnya berencana membangun bandara, dengan memanfaatkan bandara Sangkima milik PT Pertamina, yang sudah tidak digunakan. Dishub Kutim  telah mengajukan rencana pembangunan ke Kementerian Perhubungan. Namun pembangunan terkendala, karena bandara berada di kawasan TNK, sehingga tidak boleh dibangun.

Harapan muncul, setelah adanya enclave. Namun,  ternyata area bandara yang masuk dalam enclave ternyata hanya runway-nya saja. Sementara untuk membangun bandara, dibutuhkan bangunan ruang tunggu, cargo, parkir dan pendukung lainnya. Kemudian diajukan penambahan luasan lokasi bandara, namun proses tidak jalan, sehingga Pemkab engalihkan pilihan ke Bandara Tanjung Bara, untuk diperluas.